Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Ruang Rindu





Ruang rindu, judul sebuah lagu dari band ternama asal Jogja, Letto, mengusik aku sedari siang. Kata Maya, disetiap hati kita ada ruang rindu khusus untuk sesuatu yang khusus. Khusus? Apa itu artinya pacar? Jika memang begitu, berarti ruang rinduku kosong. Tak ada siapapun disana, hanya sebuah tempat yang tak pernah kukunjungi, mungkin kini sudah bersawang dan angker juga dingin. Allah, mungkinkah ruangan itu sedingin aku?
“Laras, buka pintu Nak” aku beranjak dari tempat tidur dan sedikit merapikan jilbab didepan kaca. Kubuka pintu kamar, kudapati Ibu tersenyum padaku.
“Kamu cepat ganti pakaian dan turun” aku mengernyitkan dahi.
“Kok bengong, cepat ganti dan turun” Ibu meninggalkanku yang masih penuh tanda tanya.
“Pake baju terbaik” tambah Ibu.
Ku banting pintu kamar. Sebagai anak bungsu sekaligus anak perempuan satu-satunya memang repot. Ketiga kakak lelakiku semua protektif. Setiapa ada lelaki yang dekat pasti mereka mencurigai. Mungkin karena Bapak sudah tiada, jadi mereka lebih tanggung jawab untuk mendidikku.
Aku berjalan menuju ruang tamu. Sepertinya rame sekali, bukannya ini bukan waktu kunjungan kakak-kakakku. Ketiga kakakku sudah menikah dan tidak tinggal bersama aku dan Ibu. Tapi setiap seminggu sekali mereka rame-rame kesini. Saat itu aku senang, apalagi dengan anak-anak mereka yang masih lucu-lucu.
“Kok pada kesini?” tanyaku begitu tahu yang datang mereka.
“Duduk Ras” aku duduk seperti yang disuruh Mas Iqbal, kakak pertama ku.
Eh, tunggu, kok ada satu cowok yang baru aku liat. Siapa dia? Kok dia ikut acara kita?
“Afnan” aku menoleh kearah Mas Hasan, kakak ketigaku.
“Namanya Afnan” dia menekan ucapannya.
“Sorry Dek, kami dadakan kesini sebenarnya ada yang ingin kami omongkan” sahut Mas Ali, kakak keduaku.
“Serius ya?” tanyaku hati-hati, mereka mengangguk bersamaan.
“Ini tentang kamu dan Afnan” ujar Ibu.
Cowok asing itu? Emang apa hubungannya? Aku kan belom kenal, kita baru aja ketemu kok. Banyak pertanyaan dan protes diotakku.
“Kami ingin kamu menikah dengan Afnan” sebuah penyataan dari Mas Ali membuat aku agak syok. Kok tiba-tiba gini sih? Aku kan nggak tahu siapa Afnan!
“Laras, kami kenal Afnan, dia pria yang baik” enteng banget sih Mas Iqbal ngomong. Ntar yang ngejalani siapa sih. Nikah nggak segampang itu kali. Mereka kan yang kenal, bukan aku. Ya mereka aja yang nikah ma Afnan.
“Mungkin kalian khawatir padaku, aku maklum. Tapi bukan begini caranya mas untuk nunjukkin kasih sayang, apa kalian berpikir bagaimana dengan perasaan mas Afnan?”
“Aku yang meminta mereka untuk menikahkanmu denganku”
“Mas Afnan nggak kenal aku!” aku agak sedikit teriak. Dia hanya tersenyum, ni orang gila kali ya.
“Laras, begini saja, kamu pikirkan dulu. Kamu bisa menjawabnya bulan depan” ujar Ibu bijak. Aku menghela napas, setidaknya aku punya waktu untuk bernapas lega. Aku mengangguk dan mereka tersenyum.
*************************
Sebulan, waktu yang lumayan lama. Aku nggak perlu pusing, seandainya mereka minta jawaban sekarang pun aku sudah punya, yaitu TIDAK. Enak aja ngajak-ngajak nikah tapi belum saling kenal. Pernikahan itu kan bukan sesuatu yang sembarangan. Harus penuh pertimbangan yang matang bukan asal comot jodoh gitu.
“Laras, dipanggil Pak Bandi” Maya sahabatku muncul dari balik kubikel ku.
Aku berjalan menuju ruang Pak Bandi, ada perasaan was-was. Pekerjaanku nggak beres lagi ya? Huh… ini pasti gara-gara semalam.
“Siang Pak” sapaku saat membuka pintu.
“Selamat Laras, mulai besok kamu akan menjadi asisten General manager kita” aku nggak percaya aku lolos, aku ikut fit and prophertes hanya iseng. Rasanya seperti mendapat durian runtuh.
“Habis ini serahkan berkas ini keatas, kamu bisa langsung ke Pak GM, memastikan kapan kamu mulai mendampingi beliau” aku mengambil semua berkas yang harus kuserahkan keatas.
“Maya…” teriakku begitu keluar dari ruangan Pak Bandi. Maya menghampiriku dan membungkam mulutku.
“Woe ini kantor bukan hutan” dia melepaskan bungkamannya.
“May, aku jadi asisten GM” bisikku. Maya memelukku.
“Selamat ya”
Lift terbuka, aku masuk dan kutekan tombol lantai 6. rasanya deg-degan, kupeluk berkas-berkas yang ku bawa.
Selama ini aku nggak pernah bertatap langsung dengan General manager perusahaan ku, ya maklum aku kan cuma karyawan bawah. Bisa jadi asistennya saja sudah menjadi sebuah keberuntungan.
Tok…..tok…..tok
Ku ketuk pintu pelan dan ku buka perlahan.
“Selamat siang pak” kok sepi? Apa mungkin pak GM sedang keluar ya.
“Selamat Laras” aku berbalik, tak mampu kusembunyikan rasa kagetku. Didepanku berdiri seorang cowok yang membuat aku pusing tujuh keliling, Afnan. Semoga ini khayalanku aja, nggak mungkin cowok dengan jas George Armani itu adalah Afnan.
“Kamu?”
“Kok kaget gitu? Iya, aku GM disini” ini pasti semua rekayasa dia. Aku keterima pasti karna dia bukan kemampuanku.
“Aku mengundurkan diri” Afnan meraih lenganku.
“Laras…”
“Maaf Pak, tolong lepaskan”
“Laras, jangan bersikap seperti ini, setidaknya dengarkan aku dulu” dia melepaskan genggamannya.
“Sebegitu bencinya kamu padaku?” ujarnya lemas. Astagfirullah, benarkah aku benci Afnan? Kenapa aku membenci Afnan? Apa karna dia melamarku? Ya Allah, dzolimkah aku padanya.
“Aku mau tanya, apa posisiku ini karna campur tanganmu atau karna kemampuanku?” tanyaku pelan.
“Tidak, aku tidak tahu sampai tadi pagi, aku juga surprise kalo yang jadi asistenku kamu” semoga dia tidak boong. Bagaimanapun aku juga butuh kerjaan ini.
“Kapan aku kerja?” Raut muka Afnan berubah, dia bahagia mendengar putusanku.
“Besok” aku mengulurkan tanganku.
“Mohon bantuannya” dia menyambut tanganku.
*************************************
Masih teringat dipikiranku tentang perkataan Afnan tentang rasa tidak sukaku, tepatnya benci. Kalo dipikir-pikir, dia baik. Hanya saja dia punya kesalahan, melamarku. Tapi itu juga bukan kesalahan, itu kan hak dia untuk memilih seorang wanita untuk dijadikan istri.
“Laras, kita makan siang yuk” Suara Afnan membuyarkan lamunanku. Kumatikan laptop dan kututup. Kami meluncur dengan Avanza milik Afnan. Aku hanya terdiam, sesekali pandanganku berpendar pada pemandangan diluar mobil.
“Udah sampai Ras” aku membuka sabuk pengaman dan keluar. Afnan mengajakku ke sebuah restoran ternama. Kami sama-sama memesan steak special, menu istimewa restoran. Untuk minumnya aku memesan jus wortel dan Afnan Jus Alpukat.
“Ras, kenapa kamu diam saja? Nggak seneng makan sama aku” aku tersenyum getir.
“Pertama kali aku ngeliat kamu di basement kantor, kamu memukul seorang pria, waktu itu aku pikir kamu sadis” aku ingat, saat itu aku memukul pacar Maya. Dia cowok brengsek, Maya yang cantik dan baik nggak pantas dengan dia. Cowok bejat dan mupeng, pantas selingkuhannya banyak.
“Tapi pandanganku berubah saat aku melihatmu untuk kedua kali, waktu itu hujan deras, kamu memberikan payungmu pada seorang wanita tua, sedang kamu rela hujan-hujanan, itu di halte bis. Padahal aku tahu, saat itu sedang tidak ada bis dan angkutan umum lain yang lewat karna ada demo sopir angkot di Balai kota dan semua angkutan dilarang lewat daerah itu” aku menikmati cerita Afnan. Rasanya aku sendiri nggak bakal ingat semua itu.
“Pandanganku semakin berubah saat berjumpa denganmu di Panti asuhan, apa kamu ingat, kita sempat ngobrolin seorang anak berumur 2 bulan yang baru ditinggal orang tuanya dipanti asuhan itu?” Allah, aku ingat aku pernah berjumpa dengan Afnan.
“Saat itu kamu juga bilang, setiap sebulan sekali kamu selalu kepanti asuhan untuk bermain dengan anak-anak itu. Dan diam-diam aku juga ikut berkunjung untuk memperhatikanmu, saat itulah aku jatuh cinta” mimpikah yang aku dengar? Semua ini seperti dalam cerita dongeng. Jika diperhatikan, Afnan nggak jelek kok. Baik dan mapan dan satu lagi dia taat.
“Bagaiamana kamu kenal kakak ku?”
“Mereka teman mengaji di sholat centre, aku melihat foto keluarga di dompet Ali. Ali akhirnya menceritakan tentangmu”
“Gitu aja?”
“Aku cerita semuanya dan mereka pun akhirnya setuju dengan permintaanku untuk menikahkanmu dengan ku” apa ini yang dinamakan jodoh? Allah aku harus gimana? Aku bingung.
“Tapi sepertinya aku gagal” Ya Allah kenapa hatiku sakit saat mendengar pernyataan Afnan.
“Masih ada beberapa minggu” jawabku dan aku juga nggak ngerti tentang jawabanku. Apakah aku memberi harapan padanya.
************************************
Masih lama, ya hari penentuan itu masih lama. Hatiku semakin resah, setiap kali memandang Afnan. Aku juga deg-degan saat dekat dengan dia. Dan jika seperti ini, saat dia pergi tanpaku, aku merasa rindu dan was-was. Allah, apa aku udah jatuh cinta?
“Cie…. Yang jadi asisten GM, ngalamun aja neng” Maya menepuk pundakku.
“May? Ngapain kesini?”
“Ya elah Ras, mentang-mentang udah tinggi jabatannya”
“Ya Allah May, nggak gitu, aku seneng kamu kesini, mumpung bos lagi keluar”
“Ya iyalah, masak semua harus didampingi, apalagi kalo hal pribadi” aku nggak ngerti yang dibicarakan Maya, terus terang, aku belum cerita soal Afnan pada dia.
“Kok bengong?”
“Maksud kamu apa tadi?”
“Aduh Neng makudku pacaran” pacaran? Bukannya Afnan dulu melamarku? YA Allah cemburukah aku?
“Tadi aku liat Pak GM pergi ama cewek naik mobil”
“O…. Pak GM kan udah dewas biarin kali” getir rasanya mengucap pernyataan itu.
“Udah dulu ya Ras, aku balik, ntar pak Bandi ngomel” Maya keluar ruangan. Hatiku remuk redam, rasa cemburu terus memburuku. Harusnya aku tak peduli, toh aku juga udah nunjukin bahwa aku tak peduli dengannya. Aku menunjukan penolakkan, wajar bila dia mencari wanita lain yang peduli dan cinta padanya. Allah kenapa hatiku sakit? Aku juga nggak mampu menahan airmataku.
“Assalamualaikum” pintu ruangan terbuka. Aku hapal suara itu, kuambil tisu dan kuseka airmataku.
“Walaikumsalam”
“Laras kamu kenapa? Kamu nangis” Afnan kumohon jangan pedulikan aku. Jika tidak, airmata ini akan jatuh kembali.
“Aku nggak apa kok, sudahlah” aku beranjak. Afnan meraih lenganku.
“Maaf pak biarkan saya pergi”
“Nggak, sampai aku tahu siapa yang menyakitimu” Afnan, harus kah aku cerita bahwa aku menangis karna kamu, karna kebodohanku menolakmu, menolak pria sebaik kamu.
“Tolong lepaskan Pak”
“Tidak Laras….” ucapnya lirih.
“Kamu mau tahu? Kamu mau tahu yang membuatku menangis kan, ini semua gara-gara kamu!” Afnan terlihat kaget.
“Seenaknya kamu membuat pusing orang, meporak-porandakan hatiku, membuat hatiku terkesan dan menghancurkan begitu saja. Dan semua kamu lakukan tanpa meminta ijinku” ujarku dalam isak.
“Laras aku…..”
“Ya, kamu nggak salah sebenarnya, aku yang bodoh, bodoh karna rasa sayang ini datang terlambat” aku berlari keluar. Tangisku terus pecah.
**************************
Tiga hari aku tidak masuk kantor. Aku malu pada Afnan, aku malu karna aku terlambat mencintainya. Mungkin aku seperti anak kecil, tapi memang begini aku.
“Laras, Maya datang” Ibu muncul dari balik pintu. Maya? Aku harus bagaimana ini?
“Temui dia Nak, sepertinya ada yang ingin dia sampaikan” Kurapikan jilbabku, dan aku menuju ruang tamu
“May?” Maya duduk mendekatiku.
“Maaf Ras, aku nggak nyangka semua akan seperti ini. Aku nggak ngira kamu akan tersakiti hingga seperti ini” aku nggak ngerti, sebenarnya ada apa.
“Laras, aku udah tahu tentang perasaan Pak Afnan ke kamu jauh sebelum dia melamarmu”
TA RA RA
Kejutan apa lagi ini? Maya sudah tahu semuanya? Lalu apa yang aku tahu?
“Pak Afnan sudah bertanya-tanya tentangmu padaku sebelum dia melamarmu” sahabatku sudah tau? Allah….
“Sorry Ras, aku gemes sama kamu, kamu udah sadar kalo kamu udah jatuh cinta ama Afnan, tapi kamu selalu gengsi, jadi aku mengarang kejadian kemarin” jadi aku dibohongi sahabatku?. Mungkin jika bukan karna Maya aku nggak akan sadar seperti ini.
“Aku harus nemui Afnan” ujarku
“Terlambat Ras, dia udah dibandara” nggak aku harus menyusulnya.
“Maya, temani aku ke bandara”
Kami naik taksi ke bandara, Allah kumohon cegah Afnan untuk pergi. Begitu turun dari taksi aku berlari sekuat tenagaku. Aku nggak mau menyesal lagi.
“Afnan” aku hapal sosok yang berdiri membelakangiku. Dia membalikkan tubuhnya.
“Laras”
“Afnan, maafkan aku. Kumohon jangan pergi” aku mendekatinya
“Nggak bisa laras, aku…..”
“Afnan, aku akan menuruti segala permintaanmu, jika kau ingin aku jadi istrimu aku bersedia, kita menikah sekarang, kumohon Afnan” dia tersenyum dan mendekatiku.
“Aku senang, tapi….” Belum selesai dia bicara aku kembali meyahutnya.
“Aku mencintaimu Afnan, aku sayang kamu, kumohon jangan pergi”
“Laras, aku bahagia, aku juga cinta kamu. Nanti sore, sekembalinya dari Australi kita akan bicarakan lagi dan kita rencanankan pernikahan kita”
“Nanti sore?”
“Iya, aku kan cuma control cabang perusahaan disana, nggak lama kok”
MAYA!!!!!!

                                                                  DAIS (12.31 WIB); 31 Oktober 2008.




Cinta Kandang Kebo



Kata cinta, bagi Abdi bukanlah hal biasa, bukan sekedar mengatakan, aku cinta padamu. Bukan sekedar berkata, maukah kau menikah denganku? Kata cinta baginya adalah tanggung jawab yang besar, cinta baginya adalah kata maaf. Maaf jika aku tak sempurna membahagiakanmu, maaf jika aku tak seperti yang kau bayangkan, maaf dan maaf karena setiap hubungan pasti banyak ketidaksempurnaan. Itulah kenapa, rasa cintanya pada gadis berjilbab biru, yang sering melewati rumahnya tak tersampaikan. Dia takut jika senyum bidadari itu hilang, jika dia hidup bersamanya, hidup dengan penjual tape keliling.
“Le, kapan kamu mau nikah? Ibumu ini sudah tua.” Pertanyaan itu sungguh membuat telinga Abdi gerah. Sehari itu, sang Ibu sudah tanya delapan kali. Aneh, hari itu, Ngatini, Ibunya mendesak Abdi agar segera menikah.
“Ibu ampun khawatir, Abdi pasti nikah,” ujar Abdi sambil menata tape yang akan dia jual hari itu.
“Iya, tapi kapan? Nanti siapa yang ngurus kamu kalo Ibu nggak ada.”
“Ibu jangan bilang seperti itu, Ibu masih sehat” Abdi mencium punggung tangan Ibunya. Dengan memakai topi, Abdi bersiap keliling menjual tape.
“Umur orang sapa yang ngerti Le.” Abdi mendengar ucapan Ibunya. Dia sadar betul, umurnya sudah menginjak kepala tiga, sudah dua kali dia dilangkahi adik perempuannya.
Abdi keliling kampung menjajakan dagangan, seharian baru ada lima pembeli. Peluh di lehernya semakin deras mengalir, terik panas benar sedang mengujinya.
“Mas Abdi.” Panggilan lembut dari bidadari yang sering dinantinya membuat langkah pria tinggi tegap itu berhenti.
“Tanti?” Gadis itu menghampiri Abdi, menyerahkan sebuah buku bersampul hijau.
“Makasih bukunya.” Abdi menerima buku itu dan mengangguk.
“Mas Abdi pekerja keras ya? Sudah punya pegawai banyak, tetep aja turun tangan sendiri, ini namanya atasan yang rendah hati.” Yang dipuji tersenyum. Andai Tanti tahu, alasan Abdi tetap jualan sendiri adalah dia. Abdi nggak hanya pengen liat Tanti saat melewati rumahnya saja. Kesempatan satu-satunya adalah tetap berjualan tape keliling, dengan begitu dia akan sering lewat tempat kerja Tanti dan menyapa gadis itu.
“Mas, sekalian aku mau memberi ini.” Tanti menyodorkan sebuah undangan berwarna pink. Disana tertulis nama Tanti dan Seno, sahabatnya. Abdi berusaha menguasai diri, Tanti dan Seno akan menikah. Abdi benar-benar limbung, sendi-sendinya seolah terlepas, penyesalan masuk ke hatinya. Dia menyesal kenapa dia tak segera menyatakan cintanya, dia baru sadar, cinta harus diungkapkan bukan dipendam.
Seno adalah sahabatnya, sama-sama menjadi penjual tape. Bedanya adalah, Abdi bisa sukses menjadi pengusaha tape. Tapi Seno masih menjadi penjual tape keliling, menjadi pegawai Abdi. Masalah hati Seno lah yang menang dan berhasil menghancurkan hati Abdi. Tak seharusnya Abdi menyalahkan Seno, dia nggak boleh menyalahkan orang yang berani menyatakan cintanya.
“Mas Abdi, Pak Wito pesan satu kranjang tape lagi buat besok.” Ayu membuat Abdi tersentak dari lamunan. Gadis manis berjilbab itu cengingisan melihat sang bos celingukan. Di pabrik tape itu, hanya Ayu yang berani menggoda Abdi, pria itupun hanya bisa tersenyum jika sedang digoda.
“Mas Abdi ni sukanya mikirin istri orang,” celetuk Ayu, yang disindir hanya garuk-garuk kepala dan beranjak pergi. Abdi sadar, jika Ayu dilayani akan panjang jadinya dan ujung-ujungnya dia kalah. Selama ini gadis itu sudah menjadi tempat sampahnya, meski resiko yang dia tanggung gede.
“Abdi kapan nikah, Ibu sudah pengen gendong anakmu.” Ayu meniru logat Ngatini, wanita tua itu menggelengkan kepala menyaksikan tingkah pegawai anaknya. Jika Abdi mau melihat sekeliling, sebenarnya Ayu punya perasaan lain padanya.
Ayu berjalan dibelakang Abdi, hari itu Abdi sedang mengecek kebutuhan pabrik. Ayu mencatat setiap kebutuhan yang keluar dari mulut pria itu. Sesekali Ayu protes, karna Abdi bicara terlalu cepat.
“Mas ada yang kurang.” Abdi bingung, dia merasa sudah menyebutkan bahan-bahan yang sudah habis dan harus dibeli.
“Apa?”
“Istri buat Mas Abdi,” mendengarnya Abdi melotot, Ayu cengingisan. Mereka meninggalkan gudang berjalan menuju rumah Abdi yang tak jauh dari situ. Ayu berjalan mendahului Abdi. Melihat tingkah Ayu yang hiperaktif, Abdi menjadi gemas, apalagi jika mengingat segala godaan yang dia suguhkan. Terlintas pikiran nakal di kepala pria itu, bagaimana jika dia menikahi Ayu? Toh nggak ada masalah, Ayu juga sudah saatnya menikah, Ibunya sangat menyukai gadis itu dan jika dilihat-lihat Ayu manis dan sholehah.
“Ayu.” Gadis itu berhenti dan membalikkan badan,Abdi mendekatinya.
“Menikahlah denganku,” pinta Abdi. Ayu shock mendengarnya, wajahnya berubah. Dia hampr pingsan mendengar pernyataan Abdi.
“Mas Abdi nggak romantis ah, masak nglamar didekat kandang kebo.” Ayu berlari pergi sedang Abdi menengok ke kiri. Dia tersenyum aneh, benar juga yang dibilang Ayu, masak ngelamar di dekat kandang kebo, di saksikan sepasang kebo yang asyik makan siang berdua.
Ayu antusias menyiapkan hari pernikahannya dengan Abdi. Meski dia yatim piatu, dia nggak sendirian, Ngatini, calon mertuanya akan siap membantu. Semakin dekat dengan hari pernikahan, Abdi gusar, hatinya bercabang. Dia selalu bertanya, apa yang dia lakukan ini benar? Ayu gadis yang baik, bagaimana dia bisa menyakitinya? Dadanya seakan-akan meledak, dia menahan semua sendirian. Ah, Ayu sangat sempurna sebagai seorang gadis, pastilah mudah jatuh cinta padanya.
“Mas Abdi,” panggil Ayu, mereka berjanji di kebun dekat pabrik malam itu, seminggu sebelum hari pernikahan. Suasana begitu sempurna bagi sepasang kekasih. Rembulan bulat bersinar, bintang menampakan  senyumnya, gemericik air sungai terdengar indah dari kejauhan, jangkrik-jangkrik melengkapi melodi malam dalam romantisnya senandung. Keduanya masih terdiam, dingin mulai menyergap keduanya. Ayu mengehela napas, membuang kepenatan yang ada dipundaknya.
“Mbak Tanti  cerai dengan Mas Seno,” senang, cemas, bingung campur aduk di hati Abdi, dia berusaha sekeras mungkin untuk menutupi kebingungannya.
“Mas Abdi nggak usah bingung, jika ingin membatalkan pernikahan ini belum terlambat.” Abdi memandang Ayu, wajahnya begitu tenang tanpa ekspresi. Bagaimana mungkin dia akan mempermalukan gadis yang berdiri disebelahnya.
“Mas Abdi begitu mencintai Mbak Tanti bukan?” Pria itu tertunduk.
“Nggak papa Mas, karna aku juga sangat mencintai Mas Abdi.” Abdi semakin bimbang, genangan bening dimata Ayu akan segera jatuh, itu membuat Abdi semakin tak tega.
“Aku nggak akan menghalangimu, jangan menikahiku karna kasian Mas.”
“Ay.”
“Mas Abdi harus janji, setelah ini Mas harus sering tertawa.”
“Ay maaf.” Ayu berlari meninggalkan Abdi, airmatanya menganak sungai. Jika Ayu bilang tak sakit hati, bohong. Hatinya sedang terluka, luka yang menganga.
Abdi benar-benar tersiksa dengan hatinya. Cintanya pada Tanti masih belum hilang, malah kini tumbuh kembali. Namun wajah Ayu yang mulai muram membuatnya tak karuan. Apakah dia tega menyakiti Ayu yang cinta mati padanya? Dia tahu persis rasanya, karna dia pernah mengalami, tapi bagaimana dengan cintanya pada Tanti?
“Temui gadis-gadis itu, rasakan sakit mereka,” perkataan sang Ibu tak dapat dia mengerti.
“Kamu nggak boleh sembunyi, temui mereka.” Abdi mengikuti saran Ngatini. Setelah membersihkan diri, dia berjalan ke rumah Tanti yang berjarak beberapa meter. Gadis itu sedang memetik buah rambutan yang tumbuh di halaman rumahnya ketika Abdi sampai. Tanti menyambut dengan senang kedatangan Abdi. Mereka ngobrol banyak, tak ada yang berubah dari Tanti. Tak ada raut sedih diwajahnya, bahkan dia terlihat bahagia. Bayangan Ayu tiba-tiba muncul, Abdi berusaha menepisnya namun gagal. Sampai dia berpamitan pada Tanti, wajah Ayu menjadi lintasan di pelupuk matanya.
“Seandainya Mas Abdi masih sendiri, pasti aku akan mengejar cinta Mas Abdi,” ucapan Tanti seharusnya membuat hati Abdi senang karna cintanya berbalas, namun sekarang bukan itu yang dipikirkannya, dia ingin segera menemui Ayu.
Langkahnya semakin dipercepat, pria itu tak sabar ingin menemui Ayu. Hatinya begitu sakit membayangkan tangis Ayu malam itu. Dihatinya juga terbesit rindu untuk gadis manis tersebut. Tanpa Abdi sadari, dia mulai mengingat hari-harinya bersama Ayu. Dia baru sadar jika selama ini Ayu yang selalu ada disampingnya, selalu mendengar keluhnya, selalu menggodanya bahkan gadis itulah yang menjadi tempat Abdi menumpahkan kekesalan saat Tanti menikah.
Langkah Abdi berhenti saat dari kejauhan Ayu terlihat berjalan kearahnya. Abdi tersenyum pada gadis itu, tapi Ayu melewatinya, sepertinya dia nggak sadar jika Abdi ada di hadapannya. Abdi berjalan dibelakangnya. Sakit hati Abdi melihat Ayu muram. Gadis yang ceria itu sedih karna dia, tak ada lagi canda keluar dari bibirnya, tawanya seolah terusir dari hidupnya.
“Ay.” Ayu membalikkan badan. Ada senyum terpaksa dari bibir Ayu.
“Maafkan aku ya?”
“Mas Abdi nggak perlu minta maaf.” Abdi baru sadar jika dia sering mengucapkan maaf pada Ayu akhir-akhir ini. Apa ini yang namanya cinta? Apa baru kali ini Abdi jatuh cinta yang benar-benar cinta?
“Hari ini aku mau ngomong sama Budhe kalo kita nggak jadi nikah.” Ayu nggak tau jika Ngatini sudah tau masalah mereka.
“Nggak, pernikahan ini nggak boleh batal.”
“Tapi Mbak Tanti Mas?”
“Masih saja mikirin gadis lain.” Abdi memetik setangkai bunga yang tumbuh disekitar jalan itu dan memberikannya pada Ayu.
“Kamulah bidadariku saat ini dan dimasa depanku.” Senyum itu kembali dibibir Ayu. Gadis itu tersanjung serasa berada diatas awan.
“Ah…” gerutu Ayu.
“Sebel deh, Mas Abdi selalu menyatakan ditempat yang salah.” Ayu menunjuk kandang kebo yang ada disebelah kanan mereka. Abdi tersenyum dan mengaruk-garuk kepala.

Sendratari sang Angsana


Hujan kembali berderai di hatiku. Untuk kesekian kalinya aku putus dengan pacar-pacarku. Aku selalu ingin belajar dari kesalahan masa laluku, namun justru semua itu bisa menimbulkan masalah baru. Contohnya Riski, dia terlalu kuberi kelonggaran untuk berteman dengan semua sahabatku, justru dia direbut sahabat karibku. Alam, dia kujaga dengan protektif malah dia minta putus, katanya aku terlalu posesive. Yang terakhir Danang, dia bilang aku dingin, nggak ada rasa cemburu pada diriku, dia kurang tertantang.
Hah…..
Ku jatuhkan tubuhku diatas ranjang, rasanya aku nggak bisa nangis lagi. Airmataku habis dan rasanya kesedihan ini telah berkerak, jadi nggak kerasa. Kalo gini terus, aku nggak mau pacaran. Pokoknya kalo ada yang naksir aku, dia harus langsung nikahi aku. Hp ku tiba-tiba berdering, tertulis nama Ika sahabatku disana.
“Assalamu….”
“Rinda, tadi aku lihat Danang ama cewek di teater lima” dia nyerocos saja, bahkan aku tak sempat salam.
“Udah putus” jawabku lemas. Aku nggak mau ngebahas sebenarnya, bukan karna sakit hati, tapi lebih ke malas dengerin komentar Ika.
“Aduh Rin, kamu tu maunya cowok yang bagaimana? Lobang hidung empat? Atau mata nya warnanya hitam semua” apaan sih si Ika ini, koment yang nggak perlu.
Cekrekkk…..
Ku reject HP ku. Lama-lama malas juga dengerin ocehan si Ika. Dia tu temen aku, tapi kok sikapnya kayak musuhin aku.
****************
Meski aku mencoba biasa, tapi rasanya sakit banget ngeliat Danang jalan dengan cewek lain. Jujur, rasa sayang itu masih ada meski samar, atau justru ini perasaan sakit hati karna Danang mampu mendapat gantiku dengan cepat
Hah…..
Kurebahkan tubuhku dibangku taman kampus. Pohon Angsana merimbuniku. Seandainya hatiku setenang angin yang bersemilir menerpaku. Sejenak kupejamkan mataku, hah, andai hatiku selalu damai seperti ini.
“Mau cola?” ku buka mataku, Afif berdiri didepanku dan menyodorkanku kaleng cola. Dia duduk disampingku, aku hanya diam. Afif melihatku kemudian mereguk kembali cola yang ada ditangannya.
“Putus lagi?” kenapa pertanyaan itu harus muncul.
“Kamu emang nggak cocok pacaran ama cowok, cocoknya ya cuma berteman” apa sih maksud ni anak. Kalo bukan kamu pacarnya Sita dan sahabatku, aku udah gampar ni anak.
“Rin, kok diam, biasanya kamu cerewet” dia menatapku.
OPSSS…..
Rasa apa ini? Hatiku berdesir? Tatapan Afif aneh, nggak seperti biasanya. Ah…. Aku nggak boleh GR, dia kan udah pacaran ama Sita. Lho, aku kok berpikir macam-macam, aku kan nggak ada perasaan ama ni anak.
“Jalan yuk?”
“Sita?”
“Aku lagi suntuk, aku nggak bisa nyantai ama dia” pasti mereka ada masalah. Afif…Afif, kapan kamu mau ngertiin dan nrima apa adanya si Sita?.
“Yuk…” kami beranjak. Afif mengambil sepeda motor yang di parkir di halaman belakang kampus.
Ketika aku hampir naik di boncengan motor, Sita berlari ke arah kami. Aku mengurungkan niatku membonceng Afif.
Ada apa Rin?”
“Sita” Afif menoleh ke arah Sita.
“Afif…” Sita mendekat pada kami, aku agak menjauh dari mereka.
“Maaf ya Rin, aku pinjam sahabatmu ini” aku tersenyum
“Aku tinggal dulu ya” aku pergi dari mereka. Entah ada apa, hatiku sakit saat Sita datang dan mencegah kami pergi. Ini salah, aku nggak boleh memendam perasaan ini. Afif sahabatku, hanya sahabat, aku nggak boleh punya perasaan memiliki.
***************
Udah beberapa hari aku nggak ngampus. Aku mau menata hatiku dulu, perasaanku pada Afif mungkin akibat rasa tertekanku setelah putus dengan Danang. Ku teliti satu persatu perasaanku, terutama pada semua sahabat cowokku. Nihil, perasaanku biasa pada semua, tapi pada Afif, ada getaran aneh disana.
Hah…..
Kututup mukaku dengan bantal. Nggak mungkin aku jatuh cinta pada Afif. Masak aku harus jadi pecundang. Afif dan Sita kan aku yang menjodohkan. Suara pintu kamar diketuk.
“Rin…Rinda. Ada Afif dibawah Rin” suara ibu membuatku terduduk. Afif? Aku beranjak dari tempat tidurku, kuambil jilbab yang bersandar di tepi ranjang.
Aku beranjak dari tempat tidur. Kuturuni tangga dan kudapati Afif, tidak seperti biasanya perasaanku tidak karuan.
“Hai Fif…” sapaku, aku duduk dihadapannya.
Ada apa?” ujarku datar.
“Eh, kamu harusnya tu ngucapin terimakasih, ada teman yang mau berkunjung kerumahmu” aku tersenyum. Andai bisa minta, aku nggak bakal minta kamu kerumahku.
“Gimana Sita Fif?” sakit…
“Kadang kalian seperti dua sisi mata uang” kalian? Aku dan Sita maksudnya? Kok? Kayaknya aku salah pertanyaan deh.
“Sita, aku suka dia karna dia orangnya nggak slengekan, dia disiplin dan cerdas. Tapi kadang aku juga perlu dimanja” sejenak kami terdiam. Aku tertunduk, hatiku nggak karuan.
“Aku bisa menjadi anak kecil di hadapanmu, saat bersamamu aku bisa menjadi diri sendiri, dan kamu bisa mengendalikan aku” ku angakat kepalaku. Apa ini ungkapan perasaannya.
“Tapi kamu terlena dengan sifat anak-anakmu, kamu terlalu santai tidak dewasa”
“Benarkah aku tidak dewasa? Bukannya kamu!” Afif menatapku dengan penuh pertanyaan.
“Andai aku tidak dewasa, aku sudah membabi butakan perasaanku padamu. Tapi justru kamu yang menekanku dengan perasaanmu saat ini. Fif, aku juga tersiksa dengan perasaanku”
“Perasaanmu? Rin, apa perasaanmu sama denganku? ” aku mengangguk.
“Sejak kapan?”
“Aku tidak tahu, tiba-tiba perasaan ini ada”
“Rin….” Afif mendekatiku dan menggenggam tanganku, aku menariknya.
“Tidak Fif, ada Sita, aku mundur” aku berdiri dan berniat pergi.
“Tunggu Rin, kumohon” aku tidak dapat menahan air mataku, aku menjauh pergi. Afif menghadangku, aku berusaha mendorongnya tapi dia memegang lenganku.
“Rin kumohon, aku juga tersiksa dengan perasaanku ini, aku harus bagaimana?”
“Fif, aku juga akan bertanya hal yang sama, aku harus bagaimana? Aku nggak mau sakit hati lagi” isakku, aku terduduk di lantai, kakiku lemas. Afif mengajakku kembali duduk di sofa.
“Fif, sita….”
“Aku tahu Rin, aku nggak bisa nyakitin dia, dia baik nggak pantas aku nyakitin dia”
“Aku minta maaf Fif” Afif menggenggam tanganku, aku membalasnya. Allah, mungkin ini salah, tapi biarkan kami merasakan cinta ini sejenak.
******************
Sepuluh tahun sudah sejak kelulusanku. Kupandangi kampusku, hah…. Lama juga ya. Semua belum berubah, bangku taman yang sering kududuki, pohon angsana itu pun semakin besar. Kususuri ruang-ruang kelas.
“Rinda?” aku membalikkan badan, suara itu tidak asing.
“Afif?” aku tidak percaya kalo yang dihadapanku Afif. Afif yang dulu nggak pernah rapi, sekarang dia begitu tampan dengan setelan jas.
Kami mengenang semuanya, kami susuri setiap sudut kampus. Afif ternyata menjadi dosen dikampus ini, cita-citanya menjadi dosen ternyata terkabul. Sesekali kami tertawa saat mengingat kejahilan-kejahilan di masa muda kami.
“Kamu masih ingat Rin, di kantin itu kita sering buat keributan?”
“Ya, kita pura-pura bertengkar, sampai semua orang yang berada dikantin memperhatikan kita” tawa kami berderai. Hah…. Masa lalu, ya masa lalu, namun rasa itu masih mencoba menelisik di hatiku. Ya Allah kuatkan hatiku, aku hanya ingin mencintai suamiku. Aku bukan Rinda yang dulu, Afif adalah masa lalu seperti halnya kenangan dikantin itu.
“Kamu udah nikah Rin?” aku mengangguk dan kuperlihatkan cincin yang tersemat dijariku.
“Sorry aku nggak ngundang, saat itu aku ada di Surabaya” dia tersenyum.
“Aku bahagia Fif, suamiku adalah suami yang baik” ceritaku, Afif kembali tersenyum, entah apa arti senyumnya.
“Aku dengar kamu sudah punya anak?” dia mengangguk
“Anakku lelaki” ujarnya
“Subhanallah, anakku perempuan” kami sama-sama tersenyum.
“Sorry ya Fif, saat pernikahanmu dengan Sita aku nggak datang, aku ikut suami tugas ke Malaysia” dia kembali mengangguk. Sakit, masih ada rasa sakit dihatiku.
“Rin, aku tahu mungkin ini salah tapi….” Dia terdiam sejenak.
“Aku masih memikirkanmu hingga tadi saat kita ketemu, tapi saat mendengar ceritamu tentang suami mu, aku sadar, kamu sudah bahagia dan aku tidak boleh mengacaukan perasaanmu” aku menunduk, Allah perasaannya sama dengan perasaanku.
“Aku juga Fif” Afif tersentak.
“Perasaanku masih ada, tapi…..”
“Tapi kita nggak mungkin menyakiti orang-orang yang sudah membuat kita bahagia, iya kan?” Afif mengungkapkan apa yang kupendam dalam hatiku.
“Rin, berjanjilah kamu akan bahagia” airmataku jatuh saat mendengar perkataan Afif.
“Kamu juga harus janji, kamu juga harus bahagia” Allah, mungkin ini yang terbaik.
Aku berjalan menuju gerbang kampus, bunga angsana berguguran membentuk permadani kuning yang cantik. Meski sakit tapi aku bahagia karna sahabatku pun berbahagia. Allah, inilah jalanku, terimakasih.  

SUNGGUH



Kejar daku kau kutangkap. Itu judul sebuah film, bukan kisah cinta Resti. Kau kejar aku dulu, sekarang aku yang mengejarmu. Mungkin itu judul yang pas untuknya. Wuih, jadinya kejar-kejaran dong, asal nggak dikejar-kejar  sama bences-bences yang suka mangkal dibeberapa pusat perpangkalan di kota semarang aja. Pengalaman ni ye, kalo ngomong pengalaman ada tu seorang teman, niat cuma ngegoda eh malah dikejar beneran, jadinya kejar-kejaran, kayak Shah Rukh Khan ma Kajol di film India, tau deh siap berperan sebagai siapa,  hehehe. Aiyah malah guyon, terusin ceritanya. Tapi maaf ye, bukan bermaksud melecehkan suatu kaum. Kembali ke hati Resti yang kayak ombak bergulung. Yah, begitulah jika cinta mulai tertawan. Gemboknya bukan buatan Prancis apa Cina, tapi ini gembok cinta. Asli buatan hati dan hanya bisa dibuka oleh hati yang pas. Yang payah adalah, jika hati yang menjadi kunci itu hilang. Ya sudah, rasa itu akan terpenjara. Masalahnya adalah nggak ada tu pembuat kunci duplikatnya.
Paling susah nlateni hati orang. Sulit, sulit banget, apalagi jika yang di tlateni itu hati yang keras bagai batu.dan lebih sulit lagi, kalo hati yang nlateni adalah hati yang sepi. Hati yang butuh kelembutan, gimana coba? Jika ini sebuah kuis, mungkin jawabannya bisa ya atau tidak. Sayang, ini bukan kuis, ini masalah hati.
“Mas, liburan besok ke maron yuk,” ajak Resti. Aan masih sibuk dengan komputernya, tak sedikitpun menoleh atau memberi opini.
“Mas.” Resti merajuk.
“Res, aku lagi kerja!” Gertak Aan. Nyali Resti menciut. Dia nggak tahu kenapa dia bisa tahan dengan Aan. Resti ingat saat Aan masih PDKT, dia bersikap begitu romantis Selalu setia menjadi  leo alias lek ojek alias sopir, kemanapun dan kapanpun. Bersedia menemani kemana aja. Sekarang setelah dia menerima cinta  Aan, justru berbalik. Resti yang seolah-olagh mengejar cinta Aan. Bukan dia nggak mau, tapi dia capek. Capek berharap, capek meminta.
“Nggak usah manja, kamu udah dewasa Res,” ujar Aan saat melihat Resti cemberut. Resti berlari kekamar mandi, seperti biasa, menangis. Mendung itu berubah menjadi hujan yang siap membanjiri sudut mata. Hati Resti remuk, kasih sayang dan kelembutan yang dia harapkan, sepertinya nggak bakal datang dari pria pujaannya. Haruskah dia mencinta sendiri? Tak lihatkah jika hati Resti menderas rindu. Dia merasa istimewa di hati Aan, tapi ternyata keistimewaan itu nggak berarti didepan teman-teman. Sekali lagi, Resti capek.
***
Semakin hari, Resti semakin tidak tahan. Dia merasa dia menjadi pengemis, pengemis cinta. Wuih, keren dong, meski pengemis, tapi pengemis cinta. Yah, tapi kalo nggak dikasih cinta ya sama saja, kecut.
Resti memutuskan untuk menyerah. Jika Aan bisa membatu, dia pun juga akan membatu. Mungkin bagi Aan dia menganggapnya sudah tak penting lagi.
“Res, ntar siang ada acara?” Tanya Aan.
“Nggak,” jawab Resti ketus.
“Kamu kenapa sih?!, aku tanya baik-baik juga!” Nada suara Aan meninggi.
“O, gitu ya,”
“Res?!”
“Kenapa? Emang aku nggak boleh bersikap keras? Cuma kamu yang boleh keras kepala?”
“Ini kenapa sih?!”
“Mas aku udah capek, aku capek nurutin kamu. Kamu minta aku nggak manja, aku lakuin,” suara Resti mulai berat, dia menahan aliran airmata.
“Aku ini ada Mas! Aku pacarmu, aku pengen kamu perhatikan!”
“…”
“Aku ingin melihat ekspresi yang sama, ekspresi yang kamu tunjukkan pada yang lain!”
“…”
“Selama ini aku merasa kamu tidak ada.” Resti tak lagi dapat membendung tangisnya.
“Aku merasa nggak bisa nembus hatimu yang membatu, aku nyerah!”
“Res.”
“Sudahlah Mas, mungkin permintaanku terlalu sulit.”
“…”
“Mas, jujur, sebenarnya Mas sayang nggak sama aku?” Aan terdiam, dia sulit mengungkapkan perasaannya, dia terlalu sayang hingga sayang itu tak mampu dia ucapkan.  Resti berlalu dari hadapan Aan. Dia merasa, untuk memperoleh jawaban saja dia juga harus nunggu,  capek deh.
Namun, tanpa tahu, Resti telah membuat Aan menangis. Bukan karna kalimat-kalimat yang dilontarkan Resti, tapi lebih ke sakit. Sakit karna melihat bidadari yang mengisi jiwanya meneteskan airmata. Dia tak menyangka, jika selama ini dia membuat bidadari kecil itu menangis. Andai Resti tahu, betapa dia sangat mencintanya.
***
Hati Resti menderas. Dia rindu, relung hatinya merindukan jiwanya. Cintanya yang terpenjara ingin lepas, terbang bebas bagaikan panah yang melesat, menuju sasaran cintanya. Tapi tak bisa, kunci penjara itu hilang. Dia sendiri yang menghilangkannya. Hah,  semoga kelak tak ada rasa sakit dalam mencintai. Yah, mungkin aja dimasa depan nanti ada toko atau apotik cinta, yang menyediakan berbagai macam obat sakit cinta, dari masalah patah hati, selingkuh ampe penyakit jomlo hehehehe.
“Res.” Lala menepuk pundak Resti.
“Jangan jadi batu.” Resti mengernyitkan dahi.
“Aku tahu kamu bertengkar ama Aan kemarin.” Resti tersenyum pahit. Hatinya sakit, jujur rasa sayang itu membuatnya rubuh. Airmatanya terjatuh dalam hati.
“Res, Aan itu keras kepala, kalo kamu keras kepala juga jadinya akan hancur.” Resti tertunduk.
“Jika batu dilawan batu, maka salah satunya akan pecah.”
“…”
“Ya kalo salah satu yang pecah. Masalahnya, pada kasusmu, keduanya akan pecah. Aku tahu kalian, perasaan kalian.”
“…”
“Aku tahu, kamu dan Aan saling mencintai. Demi Allah, kalian jangan seperti ini.”
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Jadi air.”
“Maksudnya?”
“Hanya ombak yang bisa mengalahkan karang. Jadilah air dengan kasih sayangmu. Aku yakin Aan pasti melunak. Wanita adalah sumber kasih sayang, jadi berilah dia kasih sayang sebanyak-banyaknya, Insyaallah dia akan membalas kasih sayangmu.”
“Kalo tidak berhasil?”
“Res, Allah maha pengasih maha penyayang. Pasrahkan semua ke Allah”
Ragu, mungkinkah Aan berubah. Hah, bagaimana dia tahu jika tak mencoba. Kembali, haruskah dia kembali menjadi pengemis cinta? Bukan, tapi pejuang cinta. Cinta yang sejatinya dia harapkan dan dia nanti. Jauh di kedalaman hati, Resti terima apapun yang akan dilakukan Aan, asal dia dapat melihat senyumnya. Senyum? Dia ingat, setiap kali melihat tingkahnya, Aan selalu tersenyum. Ya, itu dia, tanpa Resti sadari, Aan memperhatikannya. Memang, nggak semua cinta diungkapkan.
***
Berputarlah duhai waktu, berputarlah dan bawa juwita hatiku kembali kepangkuanku. Hatiku pilu kasih melihat butir-butir itu mengalir pada wajah ayu dibalik jilbabmu. Aan merindu, salahkah sikap dia? Menyakitkankah perlakuan dia? Resti, bidadari yang dia ambil sayapnya kini terluka, bukan karna patahnya sayap tapi luka dalam hati. Aan menyesal, bukan maksud dia terlalu keras. Aan hanya takut, takut ketika dia harus kehilangan Resti dia akan terluka. Sekarang bukan dia saja yang terluka, bintang dalam hatinya ikut redup. Mungkinkah sinar itu kembali berpendar dan menyinari hatinya?
“Mas.” Aan menoleh, betapa bunga itu hadir dihadapannya. Dia rindu, rindu menatap gemintang itu.
“Res.”
“Ststststst.” Resti meletakkan jari telunjuknya di bibir Aan.
“Mas pernah bilang, wanita itu sumber kelembutan, tapi maaf, aku belum bisa lembut.”
“…”
“Aku belum bisa lembut, maka kuharap kau bisa lembut kepadaku, aku manja, maka dewasalah kepadaku, aku cengeng, maka tegarlah, aku rapuh maka kuatlah. Demi Allah, sayang ini adalah pemberianNya”
“Aku juga salah Res.” Aan metatap mata bintang itu, ada malu disana ketika mata mereka beradu.
“Aku takut sakit karna kehilanganmu, tapi justru semua ini malah semakin membuatmu sakit” hujan rintik diluar jendela menjadi penyejuk dihati mereka. Heningnya malam pun semakin menguatkan cinta mereka.
“Demi Allah yang mempersatukan kita, maukah kau menikah denganku, beribadah bersamaku, berjalan menuju Allah bersamaku?” Senyum tersipu itu mewakili segala isi hati. Demi Dzat yang menggenggam hati manusia. Dialah sebaik-baiknya pemersatu hati dan sebaik-baiknya pemberi jalan lurus.
Begitulah cinta, penantian sebuah hati adalah penjara siksa yang tak terperi. Cinta selalu menjadi warna kehidupan. Makanya kalo cinta ngomong dong. Kata Ran, tunjukkan cintamu.

                                                                       Kalian menjadi pelita ideku, YUSUF DESI


Hidup

Reya baru menyadari, apa yang berbahaya didunia ini, bukan narkoba, tapi rasa sepi. Rasa sepi yang begitu dingin, mencekam dan kejam. Rasa sepi yang bisa membuat siapa saja mati setiap saat, kesepian yang bisa merenggut apa saja dalam kehidupan, kesepian yang bisa membuat seseorang melakukan apa saja. Reya terduduk di salah satu bangku taman, dia melihat begitu banyak sekali manusia berlalu lalang dihadapannya, mereka tersenyum, tertawa, saling bergandeng dengan pasangannya, tapi dia, dia terduduk disudut taman. Banyak orang yang sesekali menengoknya, mungkin kasihan, atau sekedar berkata dalam hati, gadis yang malang. Tapi Reya tidak peduli, apapun yang akan mereka katakan, dia tak akan pernah peduli, karna selama ini, dia sudah terlalu banyak mendengar hal-hal yang tidak pernah ingin dia dengar.
Sebentar lagi umurnya 24 tahun, tiba-tiba dia mulai berpikir. Umur yang sudah tidak muda lagi, dia menengok kebelakang, apa saja yang pernah dia perbuat. Hatinya begitu sakit ketika menengok kebelakang. Banyak massa yang dia tak ketahui kemana hilangnya. Dia tak ingat bagaimana masa kecilnya. Dia tidak bisa seperti gadis-gadis lain yang bisa menceritakan dengan gamblang tentang masa kecilnya, pergi bersama orang tua mungkin, kamar penuh dengan boneka, atau sekedar bercanda. Mungkin hal-hal seperti itu pernah dia lakukan, tapi kenangan yang ada dalam benaknya hanya sebuah tragedy. Diumurnya yang baru menginjak usia 9 tahun, dia mendapat sebuah perlakuan yang dia tidak tahu apa itu, dimana daerah sensitifnya dipegang dan diremas oleh seorang lelaki yang dia panggil pak lek. Saat itu dia tidak tahu harus bertanya pada siap, sebab kedua orang tuanya lebih sibuk dengan pertengkaran mereka. Ayahnya lebih suka marah-marah kepada sang Ibu ketimbang mendengar keluh putrinya yang butuh perlindungan. Sedang ibunya yang harusnya menjadi tempatnya menumpahkan segala tanya, justru memberinya banyak keluh yang seharusnya belum pantas bagi anak seusianya untuk mendengar. Maka tumbuhlah Reya dengan segala rahasianya. Hingga ketika dia SMP, dimana dia tahu apa itu organ reproduksi, maka saat itulah dia tahu, jika Pak Lek nya telah melakukan pelecehan seksual padanya. Maka mulailah petualangan Reya, dimana dia mencari apa sebenarnya seks itu, sebab dia takkan pernah tahu dari orangtuanya. Entah berapa teman lelakinya telah menjamah tubuhnya, yang jelas, dia tahu sensasi bagaimana jika dia mendekati sebuah kegiatan bernama seks. Namun disinilah Allah begitu menjaganya, sebab jika ukuran suci adalah perawan, maka Allah selalu menjaga keperawanan Reya dengan cara yang aneh.
Kehidupan Reya semakin penuh petualangan, dia tak pernah menjadi bunga manis untuk satu kumbang. Dia akan menampakkan keindahan pada setiap kumbang yang mau memberinya ramai, dan mengusir galau dihatinya akibat kesepian. Meski dia tahu takkan ada cinta murni untuknya. Tapi apalah arti cinta, toh dia tak pernah mendapatkannya. Bagaimana dia bisa berharap orang lain mencintainya sedangkan kedua orang tuanya memikirkan dia saja tidak.
Reya adalah bunglon, dia tak akan menampakkan wujud sebenarnya, dia adalah anak baik-baik dirumah, dengan segudang prestasi. Prestasi yang dia harap mampu membuat Ayah atau Ibunya menepuk pundaknya dan berkata.
“Kami bangga mempunyai putri sepertimu” namun ternyata kata-kata itu tak kunjung dia dengar, justru orang tuanya semakin membandingkannya dengan anak-anak perempuan yang mereka anggap putri mereka. 
Hanya kepada seorang sahabatnya dia menceritakan semua keluhnya. Reya pun hanya mengeluarkan airmatanya didepan sahabatnya itu Tya. Meski setiap kali dia harus mendengar orangtuanya melarang dia untuk terlalu dekat dengan gadis itu, sebab gadis itu orang tak punya, dan mereka takut, Reya dimanfaatkan. Mengerti apa yang baik dan buruk, itulah akhil balig. Reya selalu bertanya, apa yang baik dan apa yang buruk, jika itu antara narkoba dan sholat, maka Reya dapat membedakannya. Namun ketika kita dihadapkan mana teman yang baik dan teman yang buruk, maka dimana definisi baik dan buruk itu berlaku. Yang ada hanya baik menurutmu dan aku, buruk menurutmu dan aku. Lalu? 
Maka Reya pun mengambil inisiatif dalam hidupnya. Dia akan menjadi apapun sesuai tempat dia berpijak. Maka dia berteman dengan orang-orang yang dianggap baik dan menurut dia munafik. Sedang Tya? Bagi Reya, persahabatan mereka tak perlu selalu diwujudkan, sekedar say hello, atau tersenyum saat bertemu, itu tidak membuat keduanya melupa.
Jenuh, Reya mulai jenuh dengan apa yang dia jalani. Dia mulai mencari apa sebenarnya hidup, apa yang harus dia lakukan. Maka sebuah pertemuan dengan teman-teman baru telah merubahnya. Dari penampilan, Reya mulai menutup auratnya, mulai teratur sholat. Dia tahu apa yang harus dia lakukan. Hingga dia mendapat sebuah kesadaran, ALLAH SELALU BENAR.
Hingga benteng yang dia bangun untuk melindungi dia akhirnya roboh saat Ayahnya mengatakan dengan terang, jika dia akan menikah.
“Menikahlah! Tak akan ada orang yang menghalangimu untuk menikah! Sejak aku lahir aku tak pernah merasakan adanya ayah, lalu apa bedanya sekarang!” dia berusaha menahan airmata yang mulai mendesak keluar. Keegoisan dan kesombongannya membuat dia berpura-pura tegar. Dia muak dengan segala kepura-puraan dia selama ini, dia tak pernah habis pikir, jika dimana seharusnya sang Ayah merencanakan pernikahan putrinya, ini justru dia merencanakan pernikahan dirinya sendiri. 
“Beri aku keadilan Allah, beri aku keadilan” entah apa yang dimaksud adil oleh Reya, yang jelas dia hanya tahu meminta, meminta kepada Dzat yang sering dia sebut BIG BOSS. Hatinya yang telah bernanah kini tertusuk, darah itu mulai tumpah bersma airmata.
Reya mengusap airmatanya, dia melihat taman mulai lengang dia beranjak, dia harus menuju rumah sakit dimana ayahnya terbaring dirumah sakit karna kecelakaan. Istri muda Ayahnya meninggal, dan sekarang putra ayahnya, yang tak lain adik tirinya menjadi tanggung jawabnya. Satria kecil itu memandangnya dengan mata sayu. Inikah keadilan yang dimaksud Allah, ketika dia memutuskan untuk menjadi seorang Rabiah, justru lewat mata anak itu dia ingin menjadi seorang Khadijah, melahirkan banyak anak dan mendidiknya agar anak-anaknya tak pernah merasakan bagaimana hidup tanpa kasih sayang. Mungkin, jika cerita hidupnya tak berjalan seperti ini, maka dia takkan tahu bagaimana rasanya memaafkan juga tak tahu rasanya melepas dendam. Akhirnya dia tahu apa arti ALLAH SELALU BENAR